Ribut dan ribut itu yang saya lihat kehidupan orang yang berenang dalam gelombang dan arus politik. Itu yang paling berkesan dalam benak saya. Sebuah sugesti paling negatif masuk ke dalam ruang bawah sadar saya.
Ada orang yang bilang kepada saya , kamu sibuk melindungi diri dalam titik aman. Kamu selalu bermain aman. Ada yang lain usulkan kita harus bangunkan sense politik. Betapapun kaya seorang pengusaha, tetapi seorang pegawai camat lebih memberi dampak banyak bagi rakyat. Saya pikir pendapat teman saya terlalu berlebihan. Terlalu meremehkan para pengusaha, pemberi lapangan kerja. Tetapi itulah kata teman saya.
Karena satu dan lain hal saya akhirnya masuk dalam arus deras politik. Saya lalu bergabung dalam satu partai. Setelah luntang lantung mengarungi kehidupan menghadang gelombang masalah kota, saya mendaftarkan diri di desa, tempat kelahiranku. Dalam waktu yang relatif singkat semua informasi tentang kabupaten daerah kelahiranku saya baca. Seluruh pemikiranku tidak jauh dari semua yang berbau desa. Berbagai sumber informasi dicari. Dan saya berusaha memahami.
Saya kembali ke desa mendaftarkan diri sebagai anggota partai politik. Dan saya mendaftarkan diri sebagai Bacaleg. Saya harus mendapatkan KTP daerah. Kini saya memiliki Kartu Keluarga dan KTP daerah. Sementara dalam dompetku masih ada KTP DKI. Siapa yang salah? Saya pikir ini juga salah saya. Saya termasuk orang yang membuat jumlah penduduk iIndonesia yang banyak menjadi lebih besar karena dua KTP ditangan.
Senin, 22 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar