Rabu, 27 Mei 2009

TIVI DAN URAT MALU

Tontonan televisi Indonesia makin hari makin bervariasi. Tidak ada lagi ruang tertutup bagi diri dan keluarga. Sekarang benar menjadi ruang umum, dan tidak memungkinkan hak-hak pribadi menjadi monopoli sendiri. Rahasia pribadi bisa dibuka tuntas dalam berbagai info publik. Rasa suka dan duka serta berbagai suasana hati yang tertutup menjadi milik pribadi tidak bisa diendapkan sendiri. Semuanya diluapkan secara gamblang dalam ruang umum.

Kemarin dalam sebuah acara tv pertengkaran keluarga dihadirkan. Suami yang dosen (Ronald) dan isterinya yang menjadi humas di perusahaan terkenal. Dua anak yang selama ini menyaksikan hiru pikuk pertengkaran dan kekerasan dalam keluarga dihadirkan.

Melal;ui pemandu semua yang terjadi dalam keluarga dibongkar habis. Apa yang tersimpan diam dalam hati dibuka. Semua yang ada dalam rumah tangga bahkan yang berada dalam batin masing-masing dibuka. Wajah mereka coba di beri penutup wajah dalam ukuran mini sehingga orang masih bisa mengenal wajah orang tersebut. Sebuah drama keluarga dihadirkan dalam keaslian. Sebuah tontonan yang mempermalukan diri. Membuka diri sampai habis. Mereka sebetulnya ibarat berjalan telanjang sebagai orang yang jahat saja. Sudah habislah urat malu mereka. Mereka menjadi robot atau mesin kata-kata tanpa rasa.

Tidak ada komentar: